Manajemen Tidak Selalu Identik Dengan Superioritas

Dengan menggunakan bahasa yang sederhana, saya mendefinisikan me-manage dengan istilah “mengelola sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan“. Berangkat dari definisi yang sederhana ini, pikiran saya menjadi lebih luas dan luwes di dalam me-manage sesuatu. Me-manage tidak selalu berbicara tentang¬† dari atas kebawah. Me-manage juga tidak selalu memposisikan diri diatas orang lain. Tetapi me-manage (dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan mengelola) menurut saya lebih kepada meng-organize sumber daya (atau objek yang kita kelola) untuk sampai kepada tujuan.¬†

Di dalam konteks manajemen waktu, kita perlu untuk mengelola keterbatasan waktu yang kita miliki (sebagai objek yang kita kelola) agar sampai pada tujuan hidup yang kita inginkan. Kita mesti memahami ada waktu yang kita gunakan untuk bekerja, ada waktu untuk ibadah, dan yang tidak kalah penting ada waktu untuk kita merenung melakukan evaluasi diri. Kesemua itu semata – mata untuk mencapai tujuan hidup kita. Apa yang menjadi tujuan hidup kita ? masing – masing individu memiliki jawabannya masing – masing.

Dalam konteks manajemen di dalam perusahaan, meskipun terdapat hirarki kepemimpinan disana, me-manage lebih dari sekedar memposisikan diri sebagai atasan di dalam sebuah team. Bagi saya me-manage adalah sebuah aktifitas besar yang terdapat unit – unit lain di dalamnya.

Unit – unit tersebut antara lain adalah kolaborasi. Meskipun kita terbiasa di didik dengan nuansa kompetisi (persaingan) sejak duduk di bangku sekolah. Saya percaya bahwa dunia sudah banyak berubah, alih – alih mengedepankan aspek kompetisi yang sengit, dalam banyak hal kita mulai mengarah ke arah kolaborasi. Bagi saya kolaborasi adalah memahami kelebihan dan kekurangan masing – masing individu, untuk kemudian meng-organisir kesemuanya di dalam satu ritme yang baik. Meskipun ada kalanya dalam beberapa kesempatan persaingan itu diperlukan untuk memotivasi seseorang.

Unit lain yang menurut saya penting adalah membangun komunikasi yang baik. Komunikasi yang baik sebagai jembatan bagi kita agar tiap – tiap individu di dalam team dapat berkolaborasi dengan baik. Di dalam membangun komunikasi yang baik ini pun ada beberapa rule yang mesti dipegang. Antara lain jangan suka masuk kedalam ranah kepribadian orang lain secara mendalam. Hal ini untuk menghindarkan kita dari perilaku mudah men-judge orang lain bila berbeda pandangan.

Rule lain yang tidak kalah penting adalah jangan suka mengekspos kesalahan atau kelemahan orang lain di depan khalayak ramai. By nature, tidak ada orang yang suka dibuka kesalahan, kelemahan atau bahkan aib nya di depan orang lain. Tentang yang satu ini, saya ingat ajaran orang tua saya. Beliau pernah bilang “yang disebut ulama itu adalah orang yang memandang kesalahan atau kelemahan orang lain dengan pandangan kasih sayang (‘ainu rahmah)“.

Maka, manage lah hidup kita dengan hati dan pikiran yang bersih. Waspadai hal – hal yang mengganggu kita dari membersihkan hati dan pikiran.

Tabik,

Kuala Lumpur, 11 Nov 2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>