Bukankah Allah Adalah Hakim yang Paling Adil ?

Bukankah Allah adalah hakim yang paling adil ? Benar, dan kami menjadi saksi atas yang demikian itu.

Kutipan surat At-Tin yang saya sebutkan diatas, menjadi point self-reflection yang penting untuk dihayati. Terlebih manakala ayat tersebut diatas sering kita jawab dengan sebuah persaksian pada kalimat kedua. 

Sejatinya kita semua paham bahwa setiap perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak, dan akan ada hari pembalasan atas segala perbuatan itu. Namun kesibukan kita sehari – hari yang mungkin menjadikan kita lengah dari nasihat ini.

Oleh karena itu, adalah penting bagi diri ini untuk berhenti sejenak dalam kelelahan dan rutinitas harian kita, untuk kemudian menghayati kembali nilai – nilai asasi yang mungkin tergerus dengan kesibukan sehari – hari.

Nilai – nilai asasi sederhana yang mungkin atau bahkan harus dikembalikan adalah sebagai berikut:

1. Adakah kita memulai hari kita dengan mengingat Allah ? ataukah kita memulai hari dengan mengingat hal selain Allah.

2. Adakah kita berangkat kerja mencari nafkah betul – betul ikhlas untuk orang – orang yang kita cintai ? ataukah kita berangkat kerja mencari nafkah sekedar hanya memenuhi isi perut dan tujuan yang fana.

3. Adakah kita memiliki kemampuan untuk beribadah khusyu’ di dalam kesibukan kita sehari – hari ? Ataukah kita sering melalaikan panggilan-Nya atau bahkan berani meninggalkan kewajiban tersebut ?

4. Adakah kita di malam hari, senantiasa bersyukur atas rizki dan anugerah yang diberikan Allah pada siang hari ? ataukah kita senantiasa mengeluh atas apa – apa yang Allah rizkikan kepada kita  ?

5. Sudahkah kita mendidik dan mempersiapkan anak dan istri kita untuk senantiasa ridho terhadap ketentuan Allah ? atau kita hanya sekejdar memberikan asupan jasmani saja kepada mereka.

Nasihat ini saya tulis kepada hati saya sendiri yang lemah. Yang terkadang bangun di pagi hari tidak selalu mengingat Allah, yang terkadang berangkat kerja di pagi hari lebih kepada rutinitas harian, dan bahkan sering men-takhirkan panggilan sholat atas nama kesibukan. Bahkan kadang sedikit sekali waktu untuk merenung di malam hari untuk mengadukan tantangan hidup ini kepada-Nya.

Bersabarlah wahai hati, saya harus mendisiplinkan diri ini lebih dari sebelumnya. Kalau dulu saya mendisiplinkan diri sendiri untuk masa depan yang cerah, maka sadarilah hari ini bahwa masa depan itu telah datang.

Hari ini engkau adalah seorang ayah, segala tindak tandukmu akan menjadi panutan bagi anak dan istrimu. Di pundakmu saat ini terletak kewajiban untuk menafkahi dan mendidik mereka. Kalau engkau tak mampu mendisiplinkan dirimu sendiri, akankah Allah mempercayakan segala kesenangan berupa rizki yang melimpah kepadamu lagi ? Seperti yang seringkali engkau sebutkan bahwa Hidup adalah Tentang Membangun Kepercayaan dengan Allah.

Engkau memulai semua ini dengan penuh keprihatinan. Engkau pernah tinggal di bilik ukuran 3×3 meter yang panas, disana engkah merumuskan masa depan. Engkau juga pernah tinggal di negeri orang dengan tekanan kerja begitu berat dan engkau mampu melewatinya.

Akankah keadaanmu yang sekarang akan melalaikan dirimu dari membina visi dan misi yang lebih besar di masa yang akan datang ?

Akankah tinggal di apartemen, jabatan dan penghasilan yang tinggi akan melalaikanmu dari kewajiban mempersiapkan generasi selanjutnya yang lebih tangguh ?

Kembalilah kepada perenunganmu yang dulu, untuk memberi target yang ketat dalam hidupmu. Untuk kembali memberikan waktu yang cukup bagi membaca kitab – kitab yang dulu. Untuk kembali bermimpi suatu saat engkau akan membina dan mendidik orang banyak. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mempersiapkan generasi yang lebih baik.

Agar engkau punya alasan kuat untuk dimasukkan kedalam golongan hamba yang di ridhoi. Mulailah hari ini -

Pulau Langkawi, Kedah Darul Aman

Kedai Melayu di depan Park Royal Resort.